Aku tak sanggup lagi jika hal itu memang terjadi. Hanya keyakinan dalam otak ini yang harus ku pegang erat. Ku genggam biar 'gak' tertiup lagi. Aku akan lebih bangkit lagi. Bersama lentera kecil yang mengiringi hidupku hingga kini. Ku mencoba menulis, apa yang mesti ku tulis. Entah untuk siapa ku menulis? Aku tak peduli! Aku benci!
Benci pada semua omongan-omongan yang membuat kepala hampir pecah. Kadang, aku cuma bisa diam. Mendengar apa yang terjadi. Kadang sekali ku berbicara, tapi sekali itu pula ku terbungkam. Aku sadar. Aku hanya diibaratkan sebuah kamera pengawas, yang hanya bisa merekam dan tak bisa mencegah, berkomentar, atau melakukan sesuatu.

Aku hanya diam. Diam seribu bahasa. Entah sampai kapan?
0 Comments:
Posting Komentar