Tampilkan postingan dengan label Terendap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terendap. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Panjangmu

Semua orang tak menginginkan hari ini. Tapi hari ini tetap akan mendatangi kita semua.
Meski tak bisa bertemu, bukan berarti tak ada rindu.
Meski tak berjumpa, bukan berarti telah lupa.

Selamat jalan kakakku tercinta.
Perjalanan panjangmu dimulai hari ini.

Allah lebih menyayangimu. Semoga surga menjadi milikmu.

Aamiin…

Perjalanan Panjangmu

Biarlah air mata ini tertahan. Untuk mengenangmu sepanjang masa.
Sampaikan salamku untuk Emak dan Bapak, jika kau bertemu dengannya di surga.

----- Desah Kian Dera -----

Jangan Ada Yang Terluka Hari Ini

Dari sinilah aku bermula. Menatapi ruang hampa sang dunia. Kecil. Tak terlihat oleh mata apapun. Tak terlihat oleh matamu. Tak terlihat oleh mata-mata di dunia. Hingga aku sempat berpikir, untuk apa aku berada disini? Untuk apa aku dihadirkan disini? Jika semuanya tidak ada yang tahu.

Tapi kemudian sang waktu membawaku pergi jauh. Mengubah apa yang telah terjadi. Merubah segala yang sudah aku miliki. Bahkan sempat juga menghancurkan jalanan yang ingin aku lalui. Tapi aku yakin. Sang Waktu tak pernah menghiraukan hal itu. Hingga ia pun beranjak terus beranjak, tanpa pernah menjawab apa yang pernah aku tanyakan padanya.

Pertanyaan tentang hidup
Tentang impian dan harapan
bahkan kematian

Biarlah semuanya itu kan terjawab hanya dalam senyumanmu. Hingga aku akan merasakan kehangatannya lagi. Hangat bersama pelukanmu. Tertawa bagai tawa si kecil.


This is my day
I want no one was hurt today



----- Desah Kian Dera -----

Separuh Nafasku Dalam Tangismu

Aku tahu, terkadang aku bukanlah diriku yang sebenarnya. Dan aku pun tahu, kau pasti sudah mengetahuinya sejak lama. Sejak separuh nafasku ini utuh kuberikan padamu. Tapi apakah hal itu yang seringkali membuatmu menangis?

Aku memang tak sesempurna cahaya di langit biru. Aku memang tak seputih rintik-rintik salju. Tapi tahukah engkau? Hatiku sudah kau curi sejak lama. Hatiku sudah terpatri di hatimu sejak lama. Sejak bola indah matamu hadir diantara ilalang rindu. Yang menghempas cintaku tuk berlabuh di hatimu. Sadarkah kau akan hal itu?

Kau menangis diantara sejuta tumpukan bebanmu. Dan aku tahu itu juga adalah bebanku. Tapi mengapa seringkali pula kau ingin menjauh dariku? Tak cukupkah kau menangis saja? Atau.........

Separuh Nafasku Dalam Tangismu

Lihatlah sayang,
Lihatlah mata bening anak kita


----- Desah Kian Dera -----

Metamorfosis Duniaku

Aku berlari, menelusuri lorong-lorong pintu yang berpeluang. Aku semakin berharap menemukan satu peluang saja dalam hidupku. Yang nantinya akan membawa setiap perubahan besar dalam duniaku. Duniaku yang penuh dengan kebohongan, kepalsuan, dan ketidaknyataan.

Dimanakah bisa kutemukan dunia yang baru?

Dunia yang penuh dengan kebahagiaan. Senyum. Tawa dan canda. Hingga menghilangkan segala beban yang ada. Merubah segala-galanya. Meskipun satu langkah kecil ini mulai kutapaki. Aku yakin nanti langkah yang besar akan aku lalui.


Semoga saat itu tiba, metamorfosisku sudah sempurna.


----- Desah Kian Dera -----

Jangan Pernah Jauh Dariku

Aku tahu, mungkin ini saatnya aku musti berpikir secara tepat. Apa yang dia minta, haruskah aku memutuskan berkata "iya"? Sementara di hati keraguan itu masih terus menerjang. Apa yang sebenarnya aku ragukan?

Aku hanya tak ingin berpisah darinya. Aku hanya ingin selalu dekat dengannya. Aku hanya ingin selalu melihat senyum manisnya. Aku hanya ini selalu mendengar ia berbicara. Meskipun terkadang kebisuan menghampiri menjadikan ruang yang kosong. Meskipun terkadang kebencian menyapa menjadikan lautan penuh amarah. Tapi aku tak ingin jauh darinya.

Aku ingin selalu bersamanya. Apapun yang terjadi. Apapun cobaan yang selalu datang. Apapun itu, aku ingin jangan pernah kau jauh dariku.


Aku tak sanggup tanpamu.


----- Desah Kian Dera -----

Di Atas Sajadah

Sakit ini. Apa sebenarnya yang sedang menggrogoti tubuhku ini? Mengapa hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti mentari, dan malam-malam terus berlalu, namun belum juga dia pergi. Sungguh amat menyiksaku. Aku ingin lepas. Ingin terbebas dan bisa menghirup udara segar lagi. Tapi serasa napasku sesak. Seolah ruang udara mulai hampa. Mulai tak kuasa lagi untuk ku hirup.

Ya Tuhan...

Bebaskanlah aku dari derita ini. Sakit ini teramat membuatku tak berdaya. Aku tahu ini adalah hukuman. Hukuman bagiku yang terkadang melupakan-Mu. Tapi aku yakin Engkau Maha Pengabul, yang kan selalu mengabulkan setiap hamba-Mu yang meminta.


Tuhan, kabulkanlah pintaku.. Agar aku bisa khusyuk memuji-Mu.


----- Desah Kian Dera -----

Antara Mungkin dan Tak Mungkin

Tidak kusangka. Semua beban ini semakin hari berlalu, semakin terasa berat. Sungguh aku tak kuasa lagi memikirkannya. Apakah ia akan memuncak setinggi gunung? Hingga buatku tak berdaya untuk menuntaskannya. Aku semakin takut..

Ya Tuhan..
Kemana lagi aku mencari? Untuk mengisi kekurangan itu. Kemana lagi aku harus mengais? Untuk memenuhi kekurangan itu. Akankah semua itu akan terus begini dan begini selamanya. Aku ingin mengejar impianku. Meski aku tahu, aku berdiri diantara mungkin dan tak mungkin. Hanya sekiranya aku yakin. Aku masih percaya pada-Mu.


Tolonglah aku... tunjukan jalan mana yang harus ku tempuh......


----- Desah Kian Dera -----

Tamparan Angin Malam

Ketika aku masih terhanyut dalam alam impian. Saat sedetik lalu ku coba bangkit dan beranjak. Namun, serasa kakiku enggan untuk melangkah. Mati. Kaku. Membeku. Aku hanya bisa menyapa malam yang semakin pekat.

Tapi di ujung waktu. Tidak kusangka tamparan angin malam melemparku teramat jauh. Hingga ku terpelanting keluar batas kosong. Lalu terjatuh pada pucuk-pucuk ilalang. Diantara embun-embun pagi yang bersenandung rumput.

Akankah sinar pagi ini ikut menamparku?


Membawaku ikut serta dalam cerahmu..... Aku berharap akan hal itu.


----- Desah Kian Dera -----

Beranjak Dari Mimpi

Aku beranjak meninggalkan ruang kosong. Berharap kutemukan lagi setitik asa yang memburam. Seburam raut wajahmu. Aku sedih. Mengapa mendung itu harus datang. Saat badai berlalu sejenak. Saat kekosongan mulai terisi.

Ah, aku goyah lagi.

Apa aku akan selamanya seperti ini. Bangkit jatuh, jatuh dan bangkit lagi, kemudian terjatuh lagi. Lagi dan lagi. Sampai kapan semua ini ku hadapi. Sedangkan impianku masih sesempurna impian yang lalu. Masih sekedar impian yang mudah berlalu.

Ah, aku goyah lagi.


Kawan, sahabat, sobat, dimanakah kalian? temanilah aku. Agar aku tak sekosong kemarin


----- Desah Kian Dera -----

Format Masa Depan

Hidup itu harus berubah. Mengikuti jejak matahari, bintang dan rembulan. Meski terkadang harus meninggalkan jejak yang perih. Menggoreskan luka yang terbuka dan terus terpatri sepanjang masa. Tapi itu semua demi membentuk format masa depan. Merancang setiap sisi masa depan.

Aku hanya berharap. Harapanku mungkin juga harapan kalian.







Aku ingin, format masa depanku yang lebih indah dari sekarang.


----- Desah Kian Dera -----

Terasa Longgar Belenggu Itu

Ada kelapangan di dadaku. Saat kumendapati sebuah titik cahaya di terowongan gelap sana. Ia datang menuntunku menuju ke dataran hijau nan indah. Aku tersenyum. Matahari pun tersenyum. Mungkinkah secercah harapan itu akhirnya datang menyapaku? Mungkinkah kini belenggu itu mulai terlepas dari diriku?

Lalu kenapa seolah aku menyesali hal itu. Bukankah itu pertanda baik untuk diriku. Ah.. aku kembali bingung. Sebenarnya jalan mana sih yang harus aku tempuh?





Tuhan, tuntunlah langkahku... mantapkan tekadku, untuk segera melepas belenggu itu.


----- Desah Kian Dera -----

Menembus Dimensi Tanpa Huruf R

Aku yang makin usang dalam sudut siang dan malam. Masih mencoba menembus celah kecil di atap tuk menggapai impian. Sia-siakah semua itu? Sebab, semakin lama semakin kumencoba, semakin aku jauh ditelan waktu. Ku mencoba untuk memahami, namun tetap tak sanggup kutemukan pemahaman. Tentang masa yang telah meninggalkanku. Tentang sisa waktu yang musti ku tempuh. Kembali aku melunglai, tiada daya.

Saat aku menggigil. Di sela dedaunan ilalang, ku sembunyikan peluh dinginku. Ku tabahkan lagi sisi kecil hatiku. Walaupun aku tau, tak semudah itu ku langkahkan kakiku menembus dimensi. Tapi sudahlah..

Mungkin suatu saat akan ada jalan. Hingga aku tak lagi lunglai.


Dan hidup... kembali saat Kau selalu ada di dekatku.


----- Desah Kian Dera -----

Mengejar Matahari

Lama sudah ku tertahan. Di sudut ruang gelap ini bersama angan. Detik ini ku harus bangkit. Meraih segala harapan dan impian yang dulu pernah ku gantung di tembok-tembok kamar. Tapi yakinkah aku? Yakinkah kalau bisik itu bukan angin yang berisik. Yang serta merta mengejekku di kala sepinya waktu. Ah.. Keraguan itu kembali datang.

Sudahlah. Aku tahu tak mungkin menembus celah di atas atap itu. Meskipun aku hanyalah setitik debu. Namun ku tak berarti di mata angin dan deru ombak. Mungkinkah ku harus bertanya pada embun? Bukankah ia yang paling tabah setiap pagi. Datang dan pergi, tak pernah merisaukan segalanya.


Atau.. Aku harus bertanya pada bulan? Jalan mana yang harus ku tempuh untuk mengejar matahari.


----- Desah Kian Dera -----

Bisik Sang Bayu

Detik ini ku terseret ke dalam bening bola matamu. Kulihat tak seasing kemarin. Ada bulir-bulir putih salju terjatuh mengkristal di pipimu. Meluluhkan semua badai yang menghantam. Kutengadahkan ke atas langit. Sembari bersenandung doa-doa.

“Tuhan, akhirnya kau kembalikan lagi dia ke pelukanku”

Udara panas kembali sejuk. Gelegar suara petir di sela tarian hujan mulai tak terdengar. Lambat laun bisikan sayup sang bayu menyapa telinga,


“jagalah dia, jangan kau sakiti lagi...”


----- Desah Kian Dera -----

Terasing Lama Dalam Bencimu

Tatapanmu itu. Tak hilang terlindas roda waktu. Tajamnya seolah menusuk ke dalam jantungku yang terdalam. Haruskah ada tatapan seperti itu? Mengapa? Padahal hari-hari telah kita lewati bersama. Bulan menjadi matahari. Matahari berubah rembulan. Puluhan matahari dan bulan sudah kita lalui berdua. Tak bisakah kau buang tatapan itu?

Lihatlah ke dalam hatiku. Aku begitu menyayangimu. Tak rela saat tatapan matamu itu berubah. Merubah segala-galanya.

Sayang...
Hatiku merasa hampa. Nadiku seolah berhenti berdenyut. Rinai hujan pun serasa panas menyesak.


Tak taukah kau? Aku terkulai tak berdaya, saat aku terasing lama dalam bencimu.


----- Desah Kian Dera -----

Ilalang Merindu

Aku masih melangkah. Meski terkadang gontai bak ombak melambai. Namun waktu tetap setia bersamaku. Satu dua hela nafas sempat membuatku linglung. Tikungan mana yang membentang di depanku?

Ku telusuri alur dedaunan. Sejumput rumput yang bergoyang diterpa deru roda jalanan. Lalu bertanya pada setitik embun, hati siapakah yang membatu?

Kuhampiri pucuk ilalang, adakah jejak kakimu disitu? Yang mengisi hari dari gelap hingga gelap kembali. Dari terang hingga terang menyepi. Namun sayang, hanya detak detik jarum weker yang selalu mengiang di telingaku. Ternyata aku masih sendiri. Menghitung mimpi-mimpi yang berkelebatan antara lorong dimensi satu dan yang lain.


Duhai cinta, tak rindukah engkau padaku?


----- Desah Kian Dera -----

Tergerogoti Oleh Waktu

Aku senang. Hari ini waktu berpihak padaku. Dengan rela menemaniku hingga aku siap mengepakan sayap-sayapku kembali, dan terbang melalui angin melewati segala mimpi. Mimpiku tentang dirimu, tentang hari-hari depanku. Tapi kembali aku tersadar, aku masih sendiri. Sendiri melewati kerikil-kerikil tajam. Sendiri melewati terik panas mentari.

Siapa yang sudi menemaniku selain waktu? Yang setiap detik-detiknya yang berlalu terus menggerogoti tubuhku. Usiaku. Hingga aku tidak lagi semuda dulu.


Waktu... Tak jemukah engkau padaku?


----- Desah Kian Dera -----

Tetap Berceloteh: Sayap Patah

Keadaan semakin hari semakin membuat bosan. Aku terpojok di sini sendiri. Sendirian. Tanpa kawan. Dan aku mulai merasa terbuang. Apakah begitu? Jangan! Jangan sampai itu terjadi. Jangan sampai keputusasaan ini menghampiri diriku. Sebab ada setitik cahaya di ujung terowongan sana. Pasti!

Kalaupun ku harus merangkak demi apa yang aku impikan. Kalaupun ku harus merebah berserak bagai dedaunan kering di musim kemarau. Akan kujalani semua itu. Walaupun purnama kian hari kian rapuh, dan kegelapan mulai menyelimuti hatiku. Aku tetap akan bilang,"Persetan dengan semua itu!!" Aku harus bisa merentang kembali sayap-sayapku yang dulu patah. Harus! Tapi semua itu hanya perlu waktu.


Akankah waktu memihakku?


----- Desah Kian Dera -----

Masih Berceloteh: Debu Tertiup Angin

Mungkin aku tak bisa mengkhayalkan masa depanku tuk sebuah kenyataan. Mungkin aku pun tak bisa merangkum perjalananku dulu tuk sebuah khayalan masa depan. Tapi aku tak bisa terus begini. Aku harus bangkit. Dari segala sesuatu yang terus menekanku. Menghimpitku. Menjepitku. Membuatku terlempar bagai debu yang tertiup angin di lembah tandus. Gersang. Penuh kebimbangan. Hanya berteman duri-duri kaktus yang terus menusuk masuk ke dasar hati, dan aku mulai terkulai. Letih.

Aku tak sanggup lagi jika hal itu memang terjadi. Hanya keyakinan dalam otak ini yang harus ku pegang erat. Ku genggam biar 'gak' tertiup lagi. Aku akan lebih bangkit lagi. Bersama lentera kecil yang mengiringi hidupku hingga kini. Ku mencoba menulis, apa yang mesti ku tulis. Entah untuk siapa ku menulis? Aku tak peduli! Aku benci!

Benci pada semua omongan-omongan yang membuat kepala hampir pecah. Kadang, aku cuma bisa diam. Mendengar apa yang terjadi. Kadang sekali ku berbicara, tapi sekali itu pula ku terbungkam. Aku sadar. Aku hanya diibaratkan sebuah kamera pengawas, yang hanya bisa merekam dan tak bisa mencegah, berkomentar, atau melakukan sesuatu.


Aku hanya diam. Diam seribu bahasa. Entah sampai kapan?


----- Desah Kian Dera -----

Celoteh: Titik Awal

Hari ini adalah awal dari semuanya. Sebelumnya, aku dah lalui hari yang berat. Hari yang begitu cepat beranjak. Sementara aku, masih terdiam di sini. Terpekur. Termenung dan terpaku oleh suasana keakraban. Meski jarum waktu telah lelah berputar. Namun ada setitik harapan di hati. Setitik harapan yang selama ini masih terpendam. Terpenjara!

Ada sebesit tanya di hatiku. Kadang, "sampai kapanku begini?" Mungkin dengan menatap anak-anak kecil yang berlari riang. Menikmati indahnya cakrawala, harum bunga-bunga dan warna-warni sayap kupu-kupu yang asik bercanda. Hatiku akan lupa.....

Tapi...
Tetap perasaanku kembali. Lagi lagi dan lagi. Seolah semua itu dah mendarah daging di tubuhku. Menyatu dengan aliran darahku dan semakin membuatku hilang kepercayaan diri. Aku lemah. Aku tidak seperti mereka. Seperti aliran arus sungai. Seperti tetes air hujan. Seperti suara gemuruh. Seperti derap kaki delman. Seperti riuh rendah kupu-kupu. Seperti nyit-nyit anak burung. Seperti jarum jam yang berdetak. Hal itu.... cuma ada pada diri mereka. "Mengapa mereka tidak sepertiku?" Haruskah aku seperti mereka? mengapa?....... Ah, aku muak!

Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. sudah. tali ini sudah mengikatku erat. Ku tak sanggup meronta. Entah kenapa. Aku cuma bisa berharap. Mereka mempercayaiku. Membawaku ikut serta dalam gerak-gerik mereka. Dan aku cuma bisa lebih berharap, agar mereka menempatkan diriku di deretan paling tengah. Tak lebih!

Namun, bila ku tatap khayalanku. Ada beribu juta nuansa indah di sana. Akankah itu terjadi? Aku jadi teringat nasehat-nasehatmu. Tapi mengapa aku masih menyangsikan itu. Atau akukah yang egois. Ku tak bisa berkomentar lagi. Kau masih menganggapku kecil. mungil. ibarat "baby" yang terayun-ayun di gendonganmu. dulu. yah... itu dulu. dulu sekali!


Kini aku sudah bukan lagi yang dulu. bertahun-tahun sudah berlalu. sayang aku masih belum bisa menemukan diriku yang sebenarnya. entah sampai kapan?

Andaikata pun ada seorang yang tau. ku kan rela berkorban demi diriku. Demi khayalanku, dan yang paling penting demimu.. IBU.


----- Desah Kian Dera -----